Pagi cerah untukkotaMexicohari ini, tidak seperti biasa yang sebenarnyakotaini menjadi sangat padat dan sibuk meladeni para kerumunan orang yang siap akan aktivitas rutin bekerjanya.
Tinggal dengan hanya seorang kakak, berdua dengan kehidupan mandiri, seorang adik terbilang pengertian akan kondisi lingkungannya, tapi kakaknya akan marah jika dia mendapat sebuah masalah atau mendapat nilai buruk.
“Jane, ayo berangkat” ujar sang kakak pada adiknya. Tidak menjawab lisan, sang adik meresponnya langsung. Mereka pergi bersama dengan sedikit candaan ditengah perjalanan
**
“Belajarlah yang serius. Kakak tidak ingin kamu hanya menghabiskan uang kakak karna sekolahmu” kakaknya bernasihat, Jane –adiknya– hanya tersenyum manis, dia sudah hafal betul nasihat saat seperti ini
“Aku berusaha seperti yang kakak bilang” balas Jane
“Bagus, kakak akan pergi kerja, doakan kakak hari ini untuk mendapatkan uang yaa”
“Amin:)”
“Sampai jumpa!” ucap sang kakak setelah mengecup kening adiknya
“Bye! Hati-hati dijalan” adik berpesan
**
“Aku benci gadis itu” desis seorang receptionist(?) menatap tajam seorang gadis yang baru masuk kedalam café ini atau lebih bisa dibilang tempat makan
“Hi Mary!” sapa gadis yang baru masuk itu
“Oh, hi Nina” balas Mary dari ucapannya seperti tidak suka
Nina –gadis itu atau kakak Jane– pergi masuk keruang belakang menuju ruang ganti, tentu saja mengganti pakaian ‘kumel’nya dengan seragam pelayan. Sebuah kemeja pendek putih dan rok pendek selutut coklat dengan rompi coklat juga berhias bando putih dikepalanya.
“Nina!!” panggil manager restoran itu, Nina yang hendak keluar dari ‘ruang belakang’ ini sekejap langsung menghentikan langkahnya, “pasti soal sepatuku” desis Nina
“Aaah, Ya manager!” sahut Nina menoleh, kemudian mendekat sekitar 1,5 meter jarak mereka
“Sudah berapa kali aku mengatakan soal sepatumu?” ucap manager dengan nada santai tapi Nina menebak itu dengan makna marah
“Sampai hari ini, seingatku 13 kali Tuan” Nina mengatakannya dengan hati-hati
“Lalu kenapa belum membelinya sampai sekarang?” nada bicara sang manager sedikit mengeras
“You-Know-Why Tuan” dengan cara menunduk Nina lebih berhati-hati menjawabnya
“Pakai ini sementara! Jangan sampai rusak, itu milik keponakanku, kebetulan dia seumuran denganmu, kupikir cocok” ucap manager tanpa Nina mengira, beliau malah memberinya pinjaman
“Terimakasih manager!!”
“Lagi-lagi terampuni!” kesal seseorang yang ternyata mengintipnya, You-Know-Who
**
“Nasib sekali kau! Pindah keMexicolangsung mendapat sambutan tak baik dari pelayan yang tidak sengaja menumpahkan jus alpukat dan spageti, hahaha!!”
Pemuda itu hanya menatap teman-temannya kesal, dia kesal karna dijadikan bahan tertawa oleh ledekan temannya
“Bodohnya, Justin tidak meminta pertanggung jawaban gadis itu!!” lanjut teman yang lainnya
Justin –pemuda itu– mencerna perkataan temannya, dia teringat, saat itu setelah peristiwa yang memalukannya tersebut dia seperti melihat sebuah cahaya didiri pelayan itu, sehingga dia tidak bisa mengenali wajahnya, sangat disesalkan, “tapi manager itu menyebutnya, Nina” pikir Justin mulai mengingat
**
“Nina, ada seorang pelanggan yang ingin dilayani olehmu” ujar Mary to the point dengan senyum kecut, “Menyebalkan” pikirnya
“Hmm, baiklah” jawab Nina mengiyakan, “tidak seperti biasanya” batin Nina memperkirakan yang tidak baik
“Selamat siang –1 PM–“ sapa Nina pada pelanggan yang diucap Mary ingin ia yang melayani. 3 pemuda itu menatapnya, Nina hanya sedikit membesarkan matanya melihat salah satu pemuda diantara ketiga itu
“Kalian ingin memesan apa?” tanya Nina sudah siap dengan buku memo dan pulpen yang sudah ada ditangannya
“1 burger tidak ada salad, tidak ada tomat, tidak ada mayo, tidak ada saus, tidak ada daging, tidak ada roti, tidak ada mentimun, dan kau tidak boleh protes!” ucap seorang pemuda memakai kaus biru bertuliskan “F**king you!” dengan simbol jari tengahnya, 2 pemuda lainnya hanya tersenyum sambil menahan tawa melihat kelakuan teman satunya
“Ta..ta..tapi..tapi kau tidak memesan apapun Tuan –Mr–“ ujar Nina berusaha mengoreksinya,
“Kubilang jangan protes! Dan aku tidak setua itu dengan panggilan Mr.! Panggil aku, Chaz” hujam pemuda bernama Chaz itu, dengan tiba-tiba berdiri dan menjilat tangannya sendiri kemudian mengusapkannya kejambulnya juga menutup matanya pelan dan seolah-olah ia menjilat sesuatu dari kanan ke kiri, Nina dan kedua teman Chaz itu menggeliat melihat tingkah Chaz seperti itu
“Hmm, kalau boleh kusarankan, bagaimana dengan Steak Moen-moen? Itu andalan restoran kami”
“Apa lezat?” tanya pemuda satunya
“Tentu, saya sendiri sangat menyukainya”
“Baiklah aku pesan 3 dan kopi capucinonya”
“Harap menunggu” ucap Nina segan dan tersenyum
**
“Bagaimana ini, dipelajaran ketiga, akan ada ulangan, dan aku belum membayar untuk pelajaran kimia ini. Bisa-bisa nilaiku merah dan kakak akan marah” cemas Jane memikirkan itu dibangku koridor, dia biasa duduk sendiri disana
“Jane, kau nampak gelisah” seorang mengagetkan Jane dari lamunannya
“Jazzy! Mengapa kamu disini?” tanya Jane polos
“Aku melihatmu sendirian darisana–menunjuk ujung kantin yang tempat duduk Jazzy searah dengan tempat Jane duduk–“
“Ooohh, aku sedang sedih Jazzy” ucap Jane menceritakannya
“Memangnya, kamu belum membayar apa saja untuk pelajaran kimia?” Jane semakin memperdalam pertanyaannya
“Menyewa alat-alat lab untuk praktek nanti, aku tidak punya uang $30, itu sangat besar”
“Hmm, kebetulan aku ada uang jajan tambahan hari ini, kuberikan separuhnya untukmu, ini” kata Jazzy memberikan uangnya
“Benarkah?” Jane meragukan
“Benar, aku senang membantu teman. Terimalah”
“Kau sungguh baik Jazzy!” kata Jane senang
**
“Kau ini bagaimana Nina! Pakaianmu semua kotor! Sepatu yang harusnya kau jaga baik-baik malah kau rusak! Gara-gara hal cerobohmu kami yang menanggungjawab! Sebagai hukuman kau harus bekerja dalam satu bulan ini tanpa gaji!” tukas manager
Nina terlonjat kaget, dalam bulan ini ia tidak mendapat gaji, untuk apa ia bekerja? Ketiga pemuda itu –Chaz, Justin, Ryan– merusak pekerjaannya!
**
“Kau sangat berani, Just!” takluk Chaz
“Menyelengkat kakinya, merusak sepatunya, menyalahkan tulisan pesanan kita, membasahi orang itu dengan 2 gelas jus alpukat, Hahahaha itu keren sekali!” lanjut Ryan –teman satunya– memuji Justin
Justin hanya diam, lagi-lagi dia merasa sangat-sangat bersalah atas tindakannya, saat itu pikiran Justin sangat kacau karna memikirkan gadis itu
**
“Hi Justin!” sapa seorang gadis cantik asalMexicoini, Selena. Baru saja menoleh Jasmine langsung mengecup Justin. Chaz dan Ryan hanya saling menatap jijik dengan perlakuan gadis itu.
“Cukup Sel” rintih Justin menlepaskan ciuman Selena. Gadis itu hanya menatap ‘mantan’ kekasihnya bingung.
“Kenapa?” tanya Selena terlihat sedih
“Ayo kita lanjutkan bermain skate-nya” ajak Justin mengabaikan gadis itu. Chaz dan Ryan hanya mengikuti karna mereka juga tidak suka sikap Selena terhadapnya
**
“Jazmyn!!” kaget Justin tapi dengan pelan Jazmyn menoleh, tidak ada mimik kaget diwajahnya
“Kau tidak terkejut sekalipun!” ujar Justin kesal dan langsung duduk disamping adiknya tersebut
“Kau tidak melihatnya? Aku sedang membaca kak!” pekik Jazmyn sedikit kesal
“Hahaha, maksudku, tidak biasanya aku melihatmu seperti ini” Jazmyn menutup bukunya kencang, kemudian berdiri dan menatap kakaknya –Justin– tajam
“Kakak ini bagaimana sih! Adiknya jadi rajin membaca bukannya dibilang bagus malah dibilang tidak biasanya. Huhh!!” sambil melempar buku pada kakaknya, Jazmyn langsung pergi begitu saja
“Aku baru menyebutnya rajin dan terjadi perubahan padanya jika dia membaca buku pelajaran, bukan buku novel romantis seperti ini!!” celoteh Justin melihat adiknya pergi